Selasa, 24 Januari 2012

Suami Suami Yang Tidak Memberi Nafkah 1: Nafkah Lahir

Seorang tetanggaku siang-siang datang ke butik, orangnya sudah tua sih, sudah banyak cucu tapi dia masih energik. Seperti yang sudah-sudah, dia datang untuk curhat dan ngutang. Dan selama ini aku tak pernah memberinya hutang, melainkan memberinya uang.

Curhatnya ya samaaa saja, itu-itu lagi, soal suaminya yang katanya pemalas, tidak bertanggung jawab, cuek dengan kebutuhan rumah tangga, semua yang memikirkan ya dia, dan dia merasa lelah dengan kesulitan demi kesulitan hidup yang menderanya.  Dia juga terjerat rentenir yang setiap hari menagih. Bila melihat dia bercerita, seolah-olah nikmat Allah tidak pernah dia rasakan.

"Ikhlas saja deh bu, suami kan Allah yang ngasih, dikasih suami seperti itu yaaa ikhlas saja, ibu masih bisa bersyukur diberi sehat, bisa jualan terus ", kataku agar dia bisa melihat nikmat Allah, tapi dia malah bercerita lebih detail tentang kekurangan-kekurangan suaminya !!!

"Aku ini sudah rajin shalat tahajud lo jeng, bangun malam sampai subuh dzikir, tapi kok rasanya pertolongan Allah tidak datang-datang", katanya lagi.  Menurutku sih pertolongan Allah sudah membanjiri hidupnya, tapi dia tidak menyadari itu, contohnya dia sehat dan punya usaha.

"Sebenarnya apa sih kesalahanku, aku sudah istighfar, tapi kok masih ... ", katanya.
"Ya sabar bu, serahkan persoalan kepada Allah", kataku.
"Njenengan kan gak mengalami hal begini ", katanya.
Bingung deh, mau ngomong apa lagi.

Memang betul kewajiban suami adalah memberi nafkah istri baik nafkah lahir maupun nafkah batin.  Wanita memang dimanja sama Allah, gak harus capek capek nyari nafkah keluarga, duh enaknya jadi wanita, lebih enak lagi bila dia turut mencari nafkah keluarga, berarti dia sudah bersedekah untuk suaminya.

Tapi kan gak enak punya suami yang tidak mau memberi nafkah, trus gimana dong ? Ada seorang temanku yang memilih berpisah / bercerai.  Si nenek yang curhat padaku siang tadi memilih bertahan hingga puluhan tahun, dan selama itu pula dia menderita dalam kesulitan.

Seandainya saja punya suami yang tidak memberi nafkah itu dianggap sebagai sebuah penderitaan atau bencana, maka jalan terbaik adalah tidak menyalahkan siapapun jadi yaaa salahkan diri sendiri, intropeksi diri.  Soalnya di dalam al qur'an tertulis :

QS. An-Nisaa' (An-Nisa') [4] : ayat 79
Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.

Meskipun secara agama suami salah, musti diingat bahwa dia adalah suami yang kita pilih, jadi yang salah ya yang memilih suami seperti itu, ya kan?  Mungkin  ada sanggahan seperti ini : kan dulu gak tahu kalau dia gak bertanggung jawab?  Loh, apa waktu memilih itu sudah ber'konsultasi' pada Yang Maha Tahu? atau hanya berdasarkan cinta yang menggebu-gebu? atau berdasarkan hal lain?

Yang jadi 'proyek besar' sekarang adalah bagaimana merubah suami menjadi orang yang lebih baik?

Hal pertama yang musti disadari adalah jangan pernah merasa bisa merubah orang lain walaupun itu suami kita, loh kok?? 'kan maunya bikin suami berubah.  Ya sih, tapi jurus pertamanya ya ini nih.  Merubah diri sendiri saja susah, apalagi merubah orang lain.  Berhentilah berpikir mau merubah suami, coba dulu terima dia apa adanya, bila kemalasannya membuat dia bahagia ya sudahlah. Tidak usah mengeluh, mengomeli dia, apalagi menjerit dan marah-marah, malah membuat anda sendiri susah.
Jalani saja peluang untuk bersedekah ke suami dengan mencari nafkah setiap hari dan bersyukurlah, boleh jadi kita membenci sesuatu padahal itu baik bagi kita.  Lakukan segala usaha dengan tenang dan bahagia dengan penuh kesadaran bahwa inilah jalan hidup ketentuan Allah.

Yang perlu dirubah ya diri sendiri, untuk menjadi lebih baik dan berdamai dengan keadaan. Banyak-banyaklah memohon ampun atas segala kesalahan di masa lalu yang mungkin menjadi sebab turunnya ujian dan cobaan ini.  Bila perlu mohonlah agar Allah membukakan kesalahan-kesalahan kita, agar kita bisa mentobatinya satu persatu.  Bermohonlah dengan segala kerendahan hati, maka Allah akan bukakan kesalahan-kesalahan kita yang membuat kita faham dan tidak menyalahkan siapapun.

Setelah itu, sadari bahwa yang mengendalikan hati manusia adalah Allah, jadi pasrahkan 'suami antik' anda kepadaNya. Minta agar Allah merubahnya menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab.  Dalam menjalani proses doa ini, hati anda harus benar-benar pasrah, jadi tidak ada ganjalan sedikitpun terhadap perilaku suami, karena dia sudah berada di tangan Sang "Maha Terapist".  Percayalah kepadaNya, jangan ragu sedikitpun.

Rasakanlah bahwa doa anda terkabul, ini merupakan 'resep' banyak ahli spiritual.  Bersyukurlah untuk doa anda yang sudah terkabul, meskipun kenyataannya suami belum menunjukkan perubahan, bertahanlah untuk merasakan bahwa dia adalah suami yang baik dan bertanggung jawab.  Perasaan 'telah terkabul' ini harus dipelihara baik-baik.

Aku punya sahabat yang mengalami masalah seperti ini, tapi dia cuek dan dia tetap bekerja keras memenuhi kebutuhan keluarga.  Gak tahu bagaimana ceritanya, si suami akhirnya punya bisnis yang membuatnya menjadi suami andalan keluarga.  Dari kisah ini bisa diambil kesimpulan bahwa 'suami capek deh' bisa berubah jadi suami yang bertanggung jawab. Jadi jangan pesimis, semangat!

6 komentar:

  1. mbak ..cerita nya hampir sama dengan aku... suami gak krj..atau krj tp menurut aku blm maksimal...lebih ke saya yang tanggung jawab smua...
    tapi ya dibalik itu saya sadar cintanya suami kepada keluarga saya,,, walau tidak bisa ksh nafkah materi tapi setidaknya sikapnya baik, mau jadi bapak rumah tangga yang lebih sabar urus anak istri...
    bagiku susah juga urus anak...maklum saya orangnya emosian hehe..
    bersyukur adalah sikap paling nyaman....

    BalasHapus
  2. Ass wr wb..
    Kalau suami mba innuri termasuk termasuk yg mana mba?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Termasuk yang workaholic dan bertanggung jawab.

      Hapus
  3. Nuria Achmad 31 Mei 2018

    Assalammualaikum WrWb
    Salam Kenal saya seorang ibu / istri dari 4 orang anak ( 2 org anak kandung, 2 org anak bawaan suami), sebelum menikah dgn suami skg (baru 3 Th) Saya adalah seorang Pengusaha Kontraktor dan aktif di bbrp organisasi, tetapi perusahaan saya mengalami kebangkrutan dan sy putuskan utk menarik diri dari hiruk pikuk dunia bisnis yg telah sy geluti selama 15 th untuk lebih fokus pada Rumah Tangga saya sekarang.
    Hingga menginjak tahun ke-3 ternyata Usaha kami tidak juga mengalami perbaikan bahkan semakin tenggelam,berbagai ikhtiar dgn byk proyek yg diupayakan sy dan suami tidak juga mendapatkan hasil.
    Secara spiritual kami pun telah berpasrah diri pada Allah sampai anak2 kamipun tidak tinggal bersama kami lebih memilih dgn ibu kandungnya dan sy hrs terpisah dgn anak kandung sy diluar kota untuk terus menunggu sampai Allah turunkan rejeki dan Ridho NYA pada keluarga kami kelak... Aamiin YRA.
    Yang ingin sy tanyakan segala daya dan upaya untuk teruss istiqomah mencari Ridho Allah ini kok begitu begitu lama ya hampir 3 th....terpuruk dlm kegelapan yang panjang seakan kami sbg ortu tidak bertanggung jwb pada anak2 dan penyelesaian masalah hutang piutang akibat dari kebangkrutan perusahaan sy.
    Hati ini tidak ingin su"udzon pada hal-hal yg tidak baik, sy lebih fokus pada ibadah dan terus bersabar menunggu masa gelap ini agar bisa terang kembali...
    Ibu INNURI yang baik sy mohon motivasi dan supportnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cuma bisa bantu doakan semoga semuanya membaik. Coba dihooponoponoin , saran dari aku, bisa dicari di blog ini, ketik ho'oponopono di kolom pencarian. Salam kasih dan maaf telat balas.

      Hapus