Jumat, 29 Agustus 2014

Branding Untuk Allah

Mungkin inilah maksud nasehat ,  kalau berdoa itu jangan mendikte Allah.

Sewaktu aku membuka bisnis Pisang Mania , aku sekedar berbuat baik dan mengajak seluruh sistem menuju Allah, itu saja.  Berjalan saja, fokusnya bagaimana semakin banyak berbuat kebaikan dan menjalankan rahmat (kasih sayang) kepada semesta.

Kalau aku berdoa yang 'mendikte' Allah, bunyi doaku kira-kira begini : "Ya Allah, aku mau pisang maniaku berkembang pesat, punya banyak cabang di seluruh Indonesia dan angkasa luar ( ??? ) , dan juga bisa difranchisekan di seluruh alam, baik yang ghaib maupun yang nyata "..... hmmm .... hahahaaa.

Justru karena fokusnya berbuat baik untuk Allah, aku mengupayakan profesionalisme dalam bekerja, aku bikin sistemnya, aku bikin standard kualitas produk , aku juga peduli pada kesehatan konsumen dengan jalan tidak menggunakan bahan pengawet dan bahan tambahan makanan kimia apapun termasuk emulsifier (pelembut kue).

Ternyata dalam perjalanan 'karier'ku mengomandani Pisang Mania, arah bisnis berubah haluan. Dulu di 'awal sejarah'nya aku mengambil tema pisang, karena ingin memberdayakan pisang di kebun biar lebih 'bermartabat' ,bahkan aku sudah menyiapkan beberapa menu tambahan yang serba pisang bila nanti kios Pisang Mania-ku berkembang.

Kenyataan di lapangan tidak seperti yang aku bayangkan , diluar dugaan, menu yang 'meledak' di kios Pisang Mania adalah  brownies pisangnya , lalu banyak pelanggan  minta brownies buah yang lain seperti nangka dan durian, juga coklat dan keju. Aku turuti saja dan lariiiiis.

design by : Hery Wijayanto  Sakura Banner Nganjuk

Dari situlah aku mulai berpikir ternyata si brownies ini punya potensi yang cukup menggiurkan, bukan hanya sebagai oleh-oleh khas Malang (kayaknya baru di tempatku yang menjual brownies rasa buah-buahan),  aku juga mendapat pesanan brownies untuk acara hajatan mulai yang jumlahnya beberapa puluh loyang, ratusan, hingga 1000 lebih (yang ratusan dan ribuan ini inshaAllah baru bulan oktober depan kejadiannya).

Bila kubandingkan antara angan-angan dan kenyataan, ternyata Allah memberiku hal yang lebih indah, yang lebih praktis dan yang lebih berpotensi untuk dikembangkan.  Allah amat tahu kalau aku tidak suka hal yang ribet, dan selama ini julan pisang goreng dan aneka menu lainnya itu begitu ribet.  Bila ingin membuka cabang di tempat lain,  musti menyiapkan kompor dan peralatan menggoreng yang 'rempong' banget.

Sedangkan jalan yang diberikan Allah lebih praktis, cukup memproduksi brownies dari rumah, dan dijual di kios  atau dijalankan oleh salesku, dengan potensi keuntungan yang lebih dan lebih besar dibandingkan ekspektasiku terhadap Pisang Mania.  Praktis, mudah, dan bisa aku kontrol dengan baik.

Ternyata dari bisnis yang sedang aku jalani, tampak nyata betapa besar kasih sayang Allah padaku, pada kami sekeluarga dan pada kami semua. Rasanya semangat itulah, semangat menemukan kasih sayang Allah pada apapun yang kita jalani, itulah yang ingin aku bawakan sebagai misi bisnis browniesku.

Membangun sebuah bisnis di bidang kuliner seperti saat ini, berarti aku musti belajar tentang  branding. Aku sama sekali tidak berpengalaman dalam hal ini, selama ini bisnisku adalah suplier butik, dan aku sering mengerjakan pesanan dengan brand orang lain, dan selama ini pula bagiku brand itu tidak penting, karena yang penting adalah pesanan tetap mengalir dan karyawan tidak ada yang nganggur.

Sekarang aku musti punya brand, karena sempat terasa lucu ketika browniesku dengan rasa bermacam-macam buah , brandnya  'Pisang Mania' , kurasa  nama 'Pisang Mania' juga terlalu panjang.

Kuputuskan untuk menggunakan nama Innuri , judulnya jadi  "innuri brownies" kombinasi 3 suku kata dan 2 suku kata yang manis.  Terus terang itupun hanya sekedar nama, karena ternyata aku tetap tidak peduli dengan brand .... alasannya susah dijelaskan dalam satu kalimat, jadi silahkan lanjut membaca tulisanku bila ingin tahu banget.

Banyak teori tentang bagaimana membangun brand dan itupun bisa dicari dengan mudah di internet, mengaplikasikannya juga tidak terlalu rumit .  Tapi yang aku cari sekarang adalah, bagaimana caranya sebuah brand bisa 'bekerja' untuk Allah ?  Adakah yang bisa menjawabnya untukku ?

Bagaimana caranya sebuah brand membuat orang mengingat kasih sayang Allah ? Bagaimana caranya sebuah brand mampu membawa orang yang mendengarnya terinspirasi untuk mendekat pada Allah ?  Bagaimana caranya sebuah brand  tenggelam dan menghidupkan asma Allah ? Brand yang 'bekerja' di dalam diamnya ?

Mungkin kedengarannya terlalu muluk, bahkan memahami pertanyaanku saja sudah terasa sulit.  Bagaimana mungkin  sebuah brand yang merupakan  sebuah 'benda mati' bisa berbuat seperti yang aku inginkan ?

Tapi bukankah dibalik sebuah bendera yang berkibar ada tangan yang menariknya ke atas ? Ada makhluk hidup di balik sebuah benda mati yang bisa menggerakkannya seperti yang dia mau ?

Aku mencoba membangun brand seperti yang aku maksud dari dalam , mulai dari dalam diriku sendiri (ini bagian tersulitnya) , dari team produksi browniesku dan beberapa sales , ini juga bagian yang tidak mudah karena latar belakang mereka yang beragam.  Tapi hal yang tidak mudah bukan berarti tidak mungkin.

Aku ajari mereka bekerja karena Allah dan dengan penuh kasih sayang.  Aku bilang pada mereka bahwa target utama dalam bisnis adalah meraih ridha Allah dengan prinsip bismillah (aku sering menjelaskan di blog ini bagaimana prinsip bismillah itu).  Aku sering menekankan pada mereka untuk berbuat kebaikan sebanyak mungkin, jangan takut untuk membagi brownies yang merupakan barang dagangan buat mereka yang lapar.

Suatu sore aku ikut ke pasar besar, ada seorang nenek menanyakan browniesku dan bertanya berapa harganya ? Setelah aku jawab,  nenek itu tidak jadi membeli, rupanya harga 18 ribu untuk seloyang brownies pisang terlalu mahal buat si nenek.  Akupun bertanya, dia mau membelikan siapa ? Nenek itu menjawab mau membelikan cucunya.  Segera aku kasih nenek itu seloyang dan dia menerimanya dengan ragu, aku meyakinkannya, nenek itu terlihat sumringah plus mendoakan bisnisku lancar dan murah rejeki.

Akupun bilang ke karyawanku, walaupun tidak ada bunda, jangan segan memberi kepada yang membutuhkan tetapi tidak mampu.  Itulah sebuah contoh kecil, bagaimana aku membentuk brand seperti yang aku mau.

Semoga Allah  melindungiku dari nafsu ingin membesarkan sebuah brand melebihi keinginan membesarkan asmaNya.
Semoga Allah menenggelamkan aku dalam pengabdian tulus kepadaNya semata.
Semoga Allah menjadikan tanganku  menggandeng banyak tangan dalam mendekatiNya

Demikian juga doaku untuk kalian semua, sahabat.

 Dan bila ke Malang, jangan lupa membeli  Innuri brownies sebagai oleh-oleh untuk orang-orang yang kalian sayangi yaaaa .... Dalam waktu dekat akan membuka kios di terminal Arjosari Malang, dan bila kalian menuju bandara Abdurrahman Saleh, silahkan mampir dulu di Cantiq butik (dari pertigaan pesawat, 100 m lurus ke arah timur), disini selain brownies juga ada aneka kain produksiku yang hand made dan eksklusif.

Kutunggu yaaa.