Kamis, 21 Mei 2015

Mensyukuri Kematian

Dear Allah lovers ,

Ijinkanlah aku bicara soal kematian, karena sedikit orang berpikir tentang kematian seperti caraku memandang kematian.  Semoga Allah menuntun pemahaman kita semua.

Ceritanya, saat bapak meninggal, aku dan mas Harylah yang menungguinya di  ruang ICU di sebuah Rumah Sakit di Batu. Keluar dari ruang ICU , aku disambut keluarga pasien lain yang sama-sama menunggu keluarga mereka. Mereka menanyakan kabar bapak, dan aku menjawab dengan tenang bahwa bapak sudah meninggal.

"Mbak kok bisa ikhlas begini ? Kemarin ibu yang di ruang situ meninggal dunia, anaknya menjerit sampai nggeblag nggleblag (pingsan)", katanya.  Aku jawab :"Bapakku meninggal dengan akhir yang baik, dalam keadaan bahagia dan dibahagiakan Allah hingga akhir hidupnya.  Bapak juga meninggalkan perbuatan baik yang masih bisa dinikmati masyarakat banyak walaupun bapak sudah meninggal.  Jadi ya ikhlas saja".

"Iya ya, enak kalau begitu. Anaknya pasien yang kemarin meninggal itu katanya punya kesalahan besar pada ibunya dan belum sempat meminta maaf, sampai jerit jerit", lanjutnya.

Banyak cerita tentang histeria kehilangan orang-orang yang disayangi. Aku menjumpai seorang anak yang bahkan menuding nuding dan memaki-maki tetangganya yang telah menolong ibunya saat ibunya meninggal dunia, padahal selama ibunya sakit, anak ini juga tidak merawat ibunya dengan semestinya.  Seperti tangisan penyesalan, atau mungkin  tangisan buaya untuk menutupi kesalahan besar yang telah dilakukannya pada orang tuanya (maaf bila kalimatku ini kasar sekali).

Tangisan dan rasa cinta itu berbeda, belum tentu yang tangisannya keras punya rasa cinta yang lebih besar daripada yang sekedar menitikkan air mata, Tingginya nada lengkingan bukan menunjukkan tingginya rasa kasih sayang, ataukah mungkin malah menunjukkan lemahnya diri mengendalikan emosi.

Lagi-lagi menurut Innuri, saat seseorang meninggal dunia dengan khusnul khatimah (akhir yang baik), sebenarnya ini adalah saat graduated , saat kelulusan seseorang dari alam dunia dengan predikat summa cum laude ....... ehm , jadi jangan ditangisi , orang sedang berbahagia, orang lulus  kok ditangisi, orang mau bertemu Sang Maha Raja yang dicintainya  kok ditangisi , yang bener itu disyukuri dan boleh traktiran ayam bakar buat seluruh tetangga (= selamatan).

Lain persoalannya kalau yang meninggal dunia su'ul khatimah (akhir yang buruk), ini juga tidak perlu ditangisi .... hihi ... , yang khusnul khatimah gak boleh ditangisi, yang su'ul khatimah kok ya gak boleh ditangisi, apa sih maunya Innuri ? ... hihi. Maunya Innuri ya ikhlas saja, menangis tidak merubah keadaan, jadi ya didoakan saja dan dijadikan pelajaran buat yang masih hidup ,  berusaha agar semasih hidup sudah 'khusnul khatimah', belajar mati gitu .... hehehe ... Duh , emangnya mati bisa dipelajari ? pakai trial gitu , mencoba-coba mati .... ah , jangaaaaannnn !!! gak ilok kata orang jawa ... hahahaha.

Doa seorang anak yang shaleh bisa kok merubah keadaan orang tuanya yang sudah meninggal, agar  terampuni dosa-dosanya dan mendapat tempat yang indah di sisi Allah, bila dosanya sudah kebacut alias keterlaluan , minimal bisa meringankan siksa orang tuanya. Jadi daripada menangis menjerit-jerit, lebih baik berdoa atau kirim-kirim al fatihah buat yang meninggal.

Doa yang dipanjatkan oleh siapa saja, bila si mati semasa hidupnya beriman, inshaAllah sampai, jadi tak perlu membatasi karena bukan anaknya , maka tidak mau mendoakan. Bukankah di dalam al quran banyak contoh doa untuk sesama muslim ? Dan tentunya boleh mendoakan aku, baik aku dalam kondisi hidup atau mati .... haha ....

Pernah membayangkan saat kematian tiba ?
Bagaimana perasaanmu saat membayangkan kematian ?
Pernahkah kamu bersyukur karena Allah menciptakan mati ?

Ya, umumnya orang bersyukur dengan kehidupan, kesehatan , kesejahteraan .... mana ada orang mensyukuri kematian ? Bisa-bisa dipelototin setiap orang , kecuali yang matanya sipit , karena yang sipit gak bisa melotot ... hehe. 

Matinya sebuah kesombongan, itu patut disyukuri. Makanya orang yang sombong , adigang adigung adiguna , kalau mati pasti disyukuri banyak orang. Jangan sampai terjadi deh, kita mati dan disyukuri banyak orang dan disyukuri malaikat pula .... Lebih baik mematikan kesombongan dalam hati kita selagi masih hidup.

Kalau tidak ada kematian , mungkin hari ini kita masih gemes melihat  tingkah polah Firaun yang dengan sombongnya mengangkat dirinya jadi Tuhan , juga kekejaman Hitler , Napoleon Bonaparte , Daendles , ......... dan aku masih bisa ketemu sama Ken Arok dan keris empu gandringnya  .... hiiiiii ..... Eh, tapi mungkin Ken Dedesnya berteman dengan aku di facebook dan berbagi resep masakan .... hahahahaha. Makanya kita perlu juga mensyukuri kematian.

Udah dulu aaaah.