Sabtu, 06 Desember 2014

Teman Teman Alni

 Dear Allah lovers,
Semula aku enggan memposting cerita ini karena ada unsur rasan-rasannya gitu ... hmmm.... Sudah lama tulisan ini aku buat dan aku biarkan begitu saja.  Kemarin ketika aku buka-buka draft, tiba-tiba saja aku merasa ingin membagi cerita ini. Kata eyang, ghibah kalau untuk pembelajaran tidak mengapa.

Ceritanya aku tengah kesal bercampur bingung melihat teman-teman Alni yang ajaib-ajaib.  Benar-benar tidak tahu bagaimana cara mengatasi keadaan ini.


Alni main ke kebun bersama Viva dan mbak Yayuk

Beberapa minggu ini teman sekolah Alni rajin main ke rumah, dan tingkah laku mereka sungguh 'mencengangkan' , seperti tidak pernah diajari nilai-nilai oleh orang tuanya di rumah, bahkan kukira mereka seperti tumbuh dari alam tanpa peradaban, saking 'ajaib'nya.

Dengan anak-anak seperti itukah anakku bergaul ? bagaimana bila mereka mempengaruhi Alni ? , begitu kata hatiku.  Sedangkan aku ini termasuk ibu yang tidak bisa mendidik anak, yang tidak tahu teori, tidak tahu ilmu psichologi, tidak mau belajar juga ... komplit sekali yaa.

Teman Alni itu ada yang pernah mencuri uang dari dalam dompetku , jumlahnya 80 ribuan, termasuk besar untuk ukuran anak-anak dan habis dalam sehari, sebagian berani minta brownies satu orang satu setiap pulang main  , dan mereka mengambil sendiri di etalase tanpa sepengetahuan bu Kot ! Kalau mereka tidak punya uang , Alni membagi bagi uang yang diambilnya dari uang recehan yang aku peruntukkan buat pengemis ... ini lucu apa memprihatinkan? Dan masih banyak lagi 'keajaiban' mereka yang lain.

 Bila dipikir, anak-anak di seputar sini  memang produk dari keluarga dan lingkungan yang tidak begitu bagus.  Daerah tempat tinggalku di perbatasan kota dan kabupaten, istilahnya dalam ilmu sosiologi  adalah masyarakat yang embivalen, kota nggak , desa nggak.

Mayoritas masyarakat disini terbiasa berbahasa yang kasar, keras dan kalimat-kalimat yang tajam. Bapak ibu mereka umumnya bekerja semua, mayoritas buruh pabrik .  Mungkin ini yang membuat anak-anak mereka tidak terdidik dengan baik.

Setelah siangnya dibikin pusing dengan kelakuan teman-teman Alni, malamnya aku merenung, bagaimana menghadapi anak-anak itu, agar mereka bisa berubah menjadi baik.

Logikaku benar-benar buntu, aku tidak punya ide sama sekali. Bahkan merencanakan untuk ngomong berdua dengan Alnipun, aku tidak tahu musti ngomong apa ? Aku benar-benar tidak tahu mau memulai dari mana ?

Akhirnya aku pasrah pada Allah, karena Allah jugalah yang menurunkan aku sekeluarga di tempat ini, Allahlah yang menggerakkan kami menyekolahkan Alni di sekolah desa agar Alni berinteraksi dengan kehidupan yang sederhana.  Allah jugalah yang menggerakkan hati teman-teman Alni untuk datang dan bermain,  Allah jugalah yang memposisikan mereka dengan segala keajaibanNya.  Ada Allah dibalik mereka semua, ada Allah yang mendekatkan mereka padaku.

Dan datanglah jawaban itu : "Sentuhlah dengan doamu".

Setiap hal yang hadir di hadapan kita, bila kita tidak mampu merubahnya, maka sentuhlah dengan doa dan kasih sayang, doa yang tulus yang berbarengan dengan rasa kasih sayang, itulah yang bisa kita lakukan. Tidak perlu memelihara perasaan jengkel dan marah , karena itu tidak akan merubah keadaan, malah memperburuk perasaan dan kehidupan kita sendiri.

Hatikupun merasa sejuk , aku yakin Alniku tumbuh menjadi wanita harapan Allah suatu hari nanti.