Kamis, 16 Oktober 2014

Kematian Itu Indah

Aku punya seorang sahabat penderita kanker, dan dia sering menulis status, bahwa hidup ini bisa sewaktu-waktu diambilNya, sedangkan kita belum cukup berbuat baik.  Beliau sendiri dalam masa-masa sehatnya senantiasa berbagi kebaikan, seolah-olah 'mengejar' kesempatan yang diberikan Allah , jangan sampai waktu yang Allah berikan tersia-sia.

Yang amat mengharukan, kadang dalam keadaan sakitpun beliau tetap menyebarkan inspirasi buat orang-orang terdekatnya, yang melihat sampai gak tega.

Bagi kita-kita yang jarang mikirin kematian, bila mendengar kata mati , apa sih yang terlintas di pikiran kalian sahabatku ? Sesuatu yang mengerikan ? yang memisahkan kita dengan orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita ? yang berarti terputusnya amal kebaikan kecuali amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak yang saleh ? yang berarti musti menyiapkan diri untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatan kita ke hadirat Allah ?

Sedangkan bagiku (dan mungkin juga bagi kalian) kematian itu adalah hal yang indah, walau aku belum pernah mengalami mati.  Cuma membayangkannya kok enak banget , enaknya karena ..... karena ..... aku musti mengajak kalian 'berkelana' ke alam bayangan dulu nih.

Bayangkanlah sahabat,
Bagi kalian yang  punya orang tua yang baik dan penuh kasih, dengan masa kecil penuh kenangan indah.  Lalu kalian besar, kuliah di kota lain, sendirian. Suatu saat bila tiba saatnya pulang mudik , bukankah kalian merasa bahagia ? Membayangkannya saja sudah membuat hati yang penuh rindu jadi senang bukan kepalang.

Itu adalah kisah kerinduan kita pada orang tua yang penuh kasih.  Sedangkan Allah, lebih dan lebih kasih pada diri kita, sungguh cintaNya tidak bisa dibandingkan dengan cinta makhluk. Tidakkah kita selalu rindu untuk pulang kepadaNya ?

Apakah kematian membuat kita berhenti berbuat baik ? Bagaimana bila Allah menghendaki lain ? Adalah pikiran kita yang sempit ini yang menyangka bahwa kematian membuat kita tak lagi bisa berbuat baik, hingga kita musti mengejarnya semasih hidup.

Pikiran kita yang sempit menganggap bahwa kematian adalah akhir dari kehidupan di dunia, pikiran kita yang sempit menganggap bahwa orang yang mati tidak bisa melakukan apa-apa,  benarkah begitu ? Bagaimana bila aku bilang bahwa kita bisa hidup dalam kematian ? .... Susah dimengertikah ?

Secara sederhana, bila kita mengajarkan sesuatu yang baik kepada orang lain, dan dia menjalankannya, maka apa yang kita ajarkan menjadi 'hidup' dalam diri orang itu, walau matipun, kita bisa tetap hidup dalam 'perbuatan' orang lain yang mengikuti kita. Itu adalah salah satu contoh yang amat sederhana.  Contoh yang lebih rumit dari itu aku tidak berani mengungkapkannya, karena terlalu sulit dijelaskan dan terlalu sulit untuk difahami.

Yang penting kita meniatkan hidup ini untuk mengabdi pada Allah, dan sepanjang hidup ini kita mendekatiNya hingga semakin mengenalNya, merindukanNya, hingga kematian itu menjadi sesuatu yang indah di mata kita.  Saat kembalinya ciptaan dalam buaian kasih sang Pencipta, itulah puncak romantisme yang dialami anak Adam.