Sabtu, 26 Juli 2014

Iman dan Hukum

Sepanjang ramadhan, acara yang paling aku dan suamiku suka adalah acara "Al Quran menjawab" di TVRI dengan nara sumber cak Nurhadi tiap jam 3.00 WIB waktu sahur, dengan host Sahrul Gunawan.  Nonton acara ini menjadi semakin jelas dan gamblang maksud Allah untuk manusia dengan al quran.


 

Di malam terakhir sahur, ada bagian yang amat menarik bila dihubungkan dengan nasib negara ini. Apalagi kita bakalan punya presiden baru.

Diuraikan oleh cak Nurhadi , bahwa Nabi Muhammad saw menerima wahyu yang berhubungan dengan keimanan (ayat-ayat makiyah) selama 13 tahun, setelah itu ayat-ayat hukum (ayat-ayat madaniyah).  Lalu terciptalah negara yang penuh rahmat, Madinah al mukaromah, lalu Nabi kembali ke Mekah membentuk negara yang penuh rahmat juga, Mekah al mukaromah.

Hikmah yang bisa diambil,  bila ingin negara ini menjadi besar dan penuh rahmat Allah, para pemimpin dan rakyatnya musti beriman dulu (melepaskan segala kepentingan selain Allah) sebelum menciptakan hukum-hukum.

Aku sendiri merasa tersindir, karena merasa punya 'negara' kecil, yaitu usaha Cantiq butikku.  Banyak masalah terjadi dalam sebuah perusahaan besar atau perusahaan kecil, dan semua musti diselesaikan dengan menempatkan kepentingan Allah dulu sebelum membuat keputusan.

Kita semua punya 'negara' kecil, bisa jadi itu bisnis kita, keluarga kita, tempat kerja kita , bahkan diri kita sendiripun musti kita pimpin.  Apapun keputusan yang kita buat untuk negara kecil kita, musti dengan melepaskan segala kepentingan pribadi, hanya kepentingan Allah yang boleh berlaku. Maka hasilnya adalah sebuah negara yang penuh rahmat dan ampunanNya, yang sukses di dunia dan akhirat.